Monday, March 01, 2010





Shutter Island – Bayang-Bayang Ilusi



Shutter Island
Genre(s): Mystery | Suspense/Thriller
Penulis: Laeta Kalogridis dari novel karya Dennis Lehane
Sutradara: Martin Scorsese
Durasi: 148 menit
Bintang: Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Michelle Williams, Patricia Clarkson, dan Max von Sydow

Seusai menonton Shutter Island, saya memang langsung merasakan kesulitan bagaimana cara menuliskan review-nya tanpa sedikitpun membahas twist-nya yang penting itu. Maklumlah, jalinan cerita di film ini, sejak awal memang dibangun untuk mencapai klimaks pada twist tersebut. Atau kalau istilahnya Roger Ebert, kritikus kondang di Amrik sono,” Everything is brought together into a disturbing foreshadow of dreadful secrets.” Tapi tenang saja, saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk menuliskan film ini, tanpa membocorkan ending yang penuh kejutan itu.

Jika Anda penggemar film misteri dengan atmosfir yang mendukung, maka Shutter Island pilihan yang tepat. Martin Scorsese membuka film ini pada sebuah perjalanan laut berlatar langit yang suram dan suasana penuh ketegangan. Film ini ber-setting tahun 1954, saat 2 orang US Marshals, Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan Chuck Aule (Mark Ruffalo) menumpang sebuah ferry yang mendekati garis pantai sebuah pulau batu yang tampak di kejauhan. Kedua aparat ini seolah sudah menangkap pertanda buruk akan terjadi atas diri mereka, sejak pulau itu masih tersembunyi di balik kabut.

Sesaat kemudian, ferry merapat di satu-satunya dermaga di pulau itu. Namun penonton seperti tidak ikut merapat ke daratan, melainkan terus terapung-apung di lautan kebingungan, sembari menyaksikan kisahnya perlahan-lahan terungkap semakin jelas. Jadi percayalah, semakin sedikit Anda tahu mengenai akhirnya, Anda akan semakin menikmati kejutan demi kejutan yang muncul.

Selanjutnya kita dibawa menyaksikan film ini dari sudut pandang Teddy Daniels. Teddy yang veteran Perang Dunia II ini adalah seorang yang tegang dan cukup ‘sakit’, terutama karena berbagai insiden tragis yang traumatis di masa lalunya, termasuk saat menjadi tentara di Perang Dunia II melawan Jerman. Bersama Chuck Aule, Daniels berusaha menyelidiki peristiwa menghilangnya Rachel Solando (Emily Mortimer), seorang pasien di rumah sakit jiwa khusus kriminal, Ashecliff Hospital.

Rachel adalah pasien yang cukup berbahaya. Dia sudah menenggelamkan 3 orang anaknya. Penyakit jiwa yang diderita Rachel membuatnya percaya bahwa anak-anaknya masih hidup dan mereka masih tinggal di rumahnya. Rachel kabur meninggalkan selnya yang terkunci dan dengan bertelanjang kaki, padahal kondisi di pulau itu tidak memungkinkannya untuk bertahan tanpa menggunakan alas kaki.

Penyelidikan Daniels dan Aule seperti mendapat hambatan serius dari Kepala Psikiater Ashecliff, Dr. John Cawley (Ben Kingsley) dan seorang dokter senior keturunan Jerman, Dr. Jeremiah Naehring (Max Von Sydow). Daniels pun menjadi sangat curiga mengenai tempat ini. Apalagi kemudian Daniels mencurigai keberadaan pasien ke-67, Andrew Laeddis yang misterius.

Sutradara Martin Scorsese kali ini berkolaborasi dengan sinematografer Robert Richardson dan menghasilkan gambar-gambar ciamik. Setiap frame yang muncul terasa membangun suasana misteri semakin mencekam. Richardson sendiri sebelumnya pernah menang Oscar lewat JFK dan Aviator. Penampilan Leonardo DiCaprio - yang kini semakin berumur - seperti biasa sangat meyakinkan, apalagi didukung penampilan bintang-bintang senior seperti Max Von Sydow, Ben Kingsley, Ted Levine dan Patricia Clarkson. Bintang-bintang muda seperti Mark Ruffalo, Michelle Williams dan Emily Mortimer juga patut diacungi jempol.

Film ini memukau dalam caranya bermain-main dengan persepsi penonton dan diciptakan dengan kompetensi maksimal sehingga hasilnya sangat menonjol, meskipun storyline-nya mengikuti novel karya Dennis Lehane yang telah diterbitkan sebelumnya. Kekuatan film ini, seperti juga bukunya adalah ketika film ini tidak sedikit pun berusaha membuat penonton merasa nyaman dengan apa yang disaksikannya. Garis batas antara fantasi dan realitas yang seringkali kabur, sehingga penonton pun menjadi ragu akan kisah yang disaksikan di layar, but in a very good and beautiful way.

Sebaiknya saya memang tidak menceritakan ending-nya yang sedikit mirip dengan film terbaik Indonesia tahun lalu. Kalau Anda berhasil menebaknya sebelum film selesai, maka saya kira Anda yang akan merasa rugi. Yang jelas, film ini adalah akan sangat menghibur bagi penggemar film misteri yang rumit dan penuh kejutan.


Wednesday, February 17, 2010


Raise the Red Lantern - Sebuah masterpiece yang melampaui berbagai definisi

Sutradara: Zhang Yimou.
Diangkat dari Novel Wives And Concubines karya Su Tong.
Durasi: 126 Minutes.
Pemain:
Songlian: Gong Li ; Third Wife: He Caifei ; Second Wife: Cao Cuifeng ; First Wife: Jin Shuyuan


Raise the Red Lantern
adalah salah satu film terindah yang pernah saya saksikan. Latarnya begitu memesona, tertata rapi, didekorasi dan dibingkai dengan sempurna. Gambar-gambarnya direkam melalui berbagai angle yang atraktif. Lihatlah butir-butir salju yang jatuh di atap rumah seakan mampu memberi efek dingin yang menggigit di batin penonton. Warna-warna, detil dan cahaya yang mencolok di bagian dalam rumah, bertentangan dengan kesederhanaan yang muram di halaman rumah, seolah-olah berupaya untuk terus menerus membangun kontras antara kehidupan di dalam perlindungan sang tuan besar dan kehidupan tanpa sang tuan. Jangan pula melewatkan ilustrasi musik yang nyaring dan mengiris jiwa.

Tetapi terlepas dari kecantikan visual film ini, saya amat terpikat dengan kisah yang ditulis Su Tong dan diangkat ke layar lebar oleh Zhang Yimou ini. Sebuah kisah tentang kekuasaan patriarki yang menindas, berlatar negeri China awal abad ke-20. Kisah bermula dari kedatangan sang istri keempat. Songlian yang baru berusia 19 tahun. Songlian awalnya seorang mahasiswi. Wafatnya sang ayah memberi arah baru bagi kehidupan Songlian. Dia dipaksa berhenti sekolah dan menikahi pria kaya. Songlian dipaksa menerima nasib untuk hidup sebagai gundik, meskipun dengan sinisme dan kepahitan yang tak henti ditunjukannya.

Hal yang juga sangat memikat adalah tuturan Zhang Yimou yang tampak begitu mudah menyingkap kepribadian dari karakter-karakternya, seiring dengan bergulirnya cerita. Istri pertama sudah terlalu tua untuk menjadi daya tarik seksual bagi sang tuan, tetapi dia adalah ibunda dari sang putra tertua. Istri kedua yang telah memberikan seorang putri, masih mengidam-idamkan dapat melahirkan seorang putra mahkota. Istri ketiga, seorang mantan penyanyi opera yang masih cantik dan berusaha menggunakan daya tarik dengan segala cara untuk mencuri perhatian sang tuan. Sementara Songlian menemukan dirinya terjebak dalam kompetisi memperebutkan perhatian dan mungkin juga cinta, dari sang tuan.

Di luar keempat istri sang tuan, ada pula seorang babu yang menjadi korban utama dari sistem pergundikan ini. Karena beberapa kali tak sengaja ‘tersentuh’ oleh sang tuan, dia pun bermimpi menjadi istri keempat. Ketika Songlian datang, impiannya buyar dan dia pun terbakar api cemburu.

Gong Li memerankan Songlian dengan daya pikat yang meluap-luap dan sangat cantik. Gong Li memang selalu mampu mengekspresikan rentang emosi yang cukup luas hanya dengan sekilas ekspresi saja. Hal ini yang telah membuat banyak penonton jatuh cinta padanya.

Sementara sang tuan sendiri hanya digambarkan dengan samar-samar. Dia adalah seorang pria kaya. Itu saja cukup untuk menggambarkannya. Namun kekuatan itu berhasil menjadikannya sumber konflik di antara para istrinya, bahkan pembantunya. Bagaimana kehidupan dalam sistem pergundikan ini membangun logika-logikanya. Bagaumana sang tuan dapat membuat wanita-wanita itu bersaing memperebutkan cintanya, hanya sekadar untuk mendapat tempat yang layak dalam kehidupan.

Tetapi bagi saya, tragedi paling menyedihkan bukan sekadar kisah poligami yang digambarkan dengan brutal. Film ini tidak sekadar menceritakan menceritakan dunia patriarki yang menindas. melainkan dunia dengan kelas dan kasta yang tidak berpihak pada kaum yang lemah. Hidup yang seolah tanpa pilihan dan membuat kalangan yang lemah bersedia menukar kebebasannya bagi sebuah imajunasi akan kebahagiaan melalui penguasaan materi. Sebuah permasalahan yang belum benar-benar tuntas hingga dekade pertama di abad ke-21 ini.

Ya, film ini bagi saya sangat bagus, kisah yang kuat dengan tuturan dan struktur yang lancar dan mudah dicerna, serta direkam dengan kejeniusan visual yang menakjubkan. Sebuah masterpiece yang melampaui berbagai definisi.

Film yang indah ini akan diputar oleh #klubfilm bicarafilm.com dan curipandang.com dalam rangka merayakan Tahun Baru China dan Hari Kasih Sayang yang jatuh bersamaan di tahun ini. Acara nonton bareng ini rencananya akan diadakan pada Jumat 19 Februari 2010 pukul 18:00 WIB (jangan telat!). Berikut detailnya:

Tempat: Jl. Achmad Dahlan Nomor 39 Gandaria (rumah yang letaknya pas di depan Universitas Uhamka Kebayoran Baru. Kalo dari terminal blok M, dilewatin sama Metromini 72 yang trayeknya Blok M - Lebak Bulus)

Konsumsi: Masing-masing bawa makanan alias potluck. Lebih ok lagi sudah tahu mau bawa apa sebelum hari H. Kalo cuma air putih kita sudah sediakan di sini.

HTM: Gratis tis tis.

Jika berminat ikut, silakan langsung beri komentar di bawah ini. Kapan lagi nonton film ok, sambil kenalan sama warga Curipandang dan bicarafilm yang lain? Psst, bakal ada bagi bagi hadiah pula lho. Ditunggu RSVPnya!


Wednesday, January 27, 2010


LYMELIFE - PERJALANAN BERAT MEMENUHI IMPIAN-IMPIAN


Lymelife

Sutradara: Derick Martini

Produser: Martin Scorsese dan Alec Baldwin

Skenario: Derick dan Steven Martini

Bintang: Rory Culkin, Alec Baldwin, Emma Roberts, Jill Hennessy, Kieran Culkin, dan Timothy Hutton.

Sinematografi: Frank Godwin


Lymelife adalah sebuah kisah coming-of-age menawan yang berlatar akhir 1970-an di Long Island, New York. Ketika itu penyakit yang dikenal dengan nama Lyme Disease baru saja mewabah di Amerika Serikat dan masih sangat misterius. Tetapi film ini sama sekali bukan soal Lyme Disease. Wabah ini hanya hadir sebagai latar film ini seperti diucapkan salah satu karakternya, "Isn't it amazing that your whole life can be changed by a bug the size of a pimple on your ass?" kata Charlie Bragg yang kehilangan gairah hidup karena penyakit ini.


Film ini lantas mengikuti 2 keluarga tidak bahagia, The Bartletts dan The Braggs lewat kacamata Scott Bartlett, remaja 15 tahun yang diperankan Rory Culkin. Scott adalah anak cerdas tetapi tidak menonjol. Dia bukan anak kutu buku di sekolah, bukan pula bintang olahraga populer. Dunianya beredar di antara bayang-bayang kekaguman pada Han Solo (Star Wars) – seperti kebanyakan remaja di akhir 1970-an, pictorial di majalah-majalah porno dan cinta terpendam (sejak usia 8 tahun) pada Adrianna Bragg (Emma Roberts dalam peran dewasa pertamanya). Sayang, meski menganggap Scott sebagai pria menarik, Adrianna secara demonstratif selalu mengatakan bahwa ia hanya berkencan dengan pria yang lebih tua.


Dampak penyakit misterius yang diidap Charlie memberi kedua keluarga ini isu masing-masing. Charlie Bragg (Timothy Hutton) otomatis menjadi pria invalid setelah terhinggap penyakit ini. Dia tidak bekerja dan menghabiskan waktu dengan menghisap ganja di basement dan berburu rusa sambil kebingungan memahami apa yang tengah terjadi pada dirinya. Istrinya Melissa (Cynthia Nixon) harus bekerja pada Mickey Bartlett (Alec Baldwin) untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di sisi lain, Mickey juga bermasalah dengan istrinya Brenda (Jill Hennessy) yang selalu tidak bisa menerima sikap egois dan flamboyan Mickey. Mickey dan Melissa pun segera saja terlibat dalam perselingkuhan yang semakin terbuka.


Hal ini sangat mempengaruhi anak-anak mereka. Adriana dan Scott mengetahuinya. Adriana bersikap sinis, sementara Scott merasa dikhianati ayahnya. Konflik meletus ketika kakak Scott, Jimmy (Kieran Culkin) kembali ke rumah dari pendidikan militernya dan menemukan bahwa ayahnya telah berselingkuh dengan Melissa. Kemarahan Jimmy menguak luka-luka di dalam keluarga ini. Kelakuan mata keranjang Mickey dan perilaku aneh Brenda yang ternyata menghantuinya sejak kecil. Jimmy akhirnya memutuskan untuk menyingkir dari rumah. Sementara Scott yang masih terlalu muda menjadi korban yang paling hancur karena hal ini. Sejak awal, Scott sangat bergantung dan membangun rasa percaya dirinya pada citranya akan figur Jimmy. The worst part about this, for Scott, terutama karena Melissa adalah ibu Adrianna yang dicintainya. Masih tersisa sedikit rasa manis di film ini yang menjauhkan citra kegelapan. Film ini adalah tentang karakter-karakter yang membangun hidupnya dengan harapan-harapan dan impian-impian. Mereka tertatih-tatih berusaha untuk mengejar impiannya, meskipun berat dan terluka.


Duet Culkin Brothers menjadi daya jual utama film ini. Rory Culkin yang memegang peran besar berhasil melakoninya dengan sangat baik. Dia sukses menampilkan kemarahan bocah remaja, juga kebingungan dan kerapuhannya. Emma Roberts mengimbanginya dengan sangat apik dengan kenakalan dan kegenitan yang cerdas. Alec Baldwin juga sangat sukses dengan perannya. Seolah-olah dia kembali ke karakter aslinya sebelum banting stir menjadi komedian 3 tahun terakhir ini. Sementara Cynthia Nixon dan Jill Hennessy justru bertransformasi menjadi karakter yang berbeda total. Setelah Sex and The City, siapa yang membayangkan Cynthia Nixon berperan sebagai bimbo, dan ternyata dia sangat berhasil dalam hal ini. Timothy Hutton adalah yang paling cemerlang. I give him credit for investing the character with a full dose of creepiness.


Sebenarnya tidak ada elemen-elemen baru yang luar biasa menonjol dalam film ini. Pada akhirnya film ini jadi semacam feel-good movie yang sedikit mencerahkan. Yang membuat film ini lepas dari stereotip film indie adalah akting yang hebat dan skenario yang cerdas. Skenario yang ditulis Derick Martini dan Steven Martini memberi ruang bagi para aktor untung menghuni perannya masing-masing dengan nyaman. Ada kekuatan naratif juga pada film ini yang berhasil mengeliminasi material yang terkesan klise. Meskipun ending-nya agak terasa gagap, namun tetap membuat saya kagum pada film ini.


Tuesday, January 19, 2010



AT THE END OF DAYBREAK

Dilema Cinta Terlarang di Negeri Jiran




At the End of Daybreak (Sham Moh) adalah salah satu dari sedikit film Malaysia yang berani mengajak dunia memperbincangkan tabu. Mengajak kita membincangkan dengan jujur tentang dorongan-dorongan yang salah, lantas tentang rangkaian keputusan dan tindakan yang menciptakan belitan masalah yang kian lama sulit diurai.

Dalam film besutan Ho Yuhang ini, kita diperkenalkan pada Tuck Chai, seorang pemuda 23 tahun yang berhubungan asmara dengan Ying, seorang gadis sekolahan yang masih di bawah umur. Bermula dari chatroom di Internet, hubungan terlarang ini awalnya berjalan mulus, sampai ketika teman-teman sekolah Ying ikut terlibat dan mengambil tindakan.

Dunia dua keluarga mulai goyah, terutama bagi Tuck Chai dan ibunya.

Tuck cai diperankan salahsatu bintang multibakat Hong Kong Chui Tien You, tinggal bersama ibunya (aktris kawakan Hui Ying Hung) yang terus tertekan setelah pengkhianatan suaminya. Namun di balik kesedihannya, ia rela melakukan apapun demi sang buah hati. Ketika orang tua Ying menyatakan akan melaporkan Tuck Chai ke polisi, sang ibu memohon agar persoalan mereka diselesaikan di luar pengadilan, dengan uang kompensasi yang harus ia pinjam dari mantan suaminya.

Setelah menerima uang, orang tua Ying memutuskan tetap melapor ke polisi. Batasan-batasan baik dan buruk, benar dan salah, menjadi kabur. Ying - diperankan bintang TV Asia Tenggara Ng Meng Hui – ingin menemui Tuck Chai untuk terakhir kalinya, ketika hubungan lelaki itu dengan ibunya sedang genting.

Dalam waktu singkat, akibat cinta buta dan keserakahan hidup beberapa orang bukan lagi dipertaruhkan, melainkan terus terperosok ke dalam kehancuran.

Film ini menggandeng nama-nama terbaik dari sinema Malaysia yang sedang tumbuh, termasuk produser Lorna Tee, sinematografer Teoh Gay Hian dan musisi Pete Teo, At the End of Daybreak adalah salah satu persembahan kultural Malaysia yang perlu kita nikmati. Semoga diputar lagi selain di JIFFEST 2009.

TECHNICAL SPECIFICATIONS

Running Time 94 minutes

Gauge 35mm 1:1.85 Color

Sound Dolby 5.1

Language Cantonese/Mandarin

Year of Production 2009

Country of Production Malaysia/ South Korea

Monday, March 16, 2009




Breaking The Slump: How Great Players Survived Their Darkest Moments in Golf and What You Can Learn From Them
Jimmy Roberts // HarperCollins Publishers // 256pp



Award winning reporter, writer and NBC Golf Commentator Jimmy Roberts gathers advice on how to recover from playing the inevitable stretch of bad golf, sharing "slump stories" from the greatest players of past and present, and some prominent golf-addicted celebrities. For the first time ever is a book about the worst times in the careers of some of the most successful people-including Jack Nicklaus, Arnold Palmer and Greg Norman-and how they dug themselves out. Every golfer should keep this book as a spiritual and emotional aid because every golfer, like it or not, will suffer a slump in their lifetime.




Always Looking Up: The Adventures of an Incurable Optimist
Michael J. Fox // Hyperion Books // 288pp





During his struggling (a.k.a adventures) with Parkinson’s disease, Michael J. Fox has been able to view the challenges before him as opportunities to grow, engage, and inspire. His discoveries have taken him on emotional, psychological, intellectual, and spiritual journey. In his new book, the beloved actor writes about personal philosophy that has carried him through darkest hours, speaks with others who have emerged from difficult periods with optimism to spare, and then shares his incredible ability to see and appreciate the precious gifts of everyday life. With humor and wit that captivated readers, Michael describes how he became a happier, more satisfied person by recognizing the gifts of everyday life.




A Homemade Life: Stories and Recipes from My Kitchen Table
Molly Wizenberg // Hyperion Books // 288pp






"Write what scares you." That's the kind of directive you'll get in creative writing classes. It's abundantly clear, as you parse the pages of Molly Wizenberg's beautiful new book "A Homemade Life," that she is writing something that scares her. The book seems light at first, a fizzy frolic with recipes and anecdotes and cute little pictures of flowers and fruit. But this book is indeed about something deeper and darker, something that only a brave writer could write. It is, in essence, the story of her relationship with her father--a lovable man she called Burg. The story starts with potato salad and ends, powerfully, with Burg's death from cancer.



Musical Theatre: A History
John Kenrick // Continuum International Publishing Group // 424pp






Like every art form, musical theatre has been changing and evolving since its inception more than 2000 years ago. Musical Theatre is a comprehensive history of stage musicals from the earliest accounts of ancient Greeks and Romans, for whom songs were common elements in staging. Musical theatre we know today first appeared in Paris during 1840s with Jacques Offenbach’s and eventually all the way up to Andrew Lloyd Webber and Broadway as we know today. The 21st century has also brought a popular new wave of musicals to Broadway stage.

John Kenrick covers it all, from the opening number to the curtain call, offering readers the most comprehensive, entertaining and up-to-date history of the art form.



The Sweet Life in Paris: Delicious Adventures in the World’s Most Glorious – and Perplexing – City
David Lebovitz // Broadway // 304pp





If you think cooks aren’t usually such good writers—or funny, skeptical, and observant, surely you haven’t read any David Lebovitz’s book. He is greatest thing to happen to dessert since the spoon. Maybe you have heard some of his previous bestsellers, such as Ripe for Dessert, Room for Dessert, The Great Book of Chocolate and The Perfect Scoop.

This time he shows that beyond his artful nose and flawless taste, he also has a keen reporter’s eye. Like so many others, David Lebovitz dreamed about living in Paris. Finally, after a nearly two-decade career as a pastry chef and cookbook author, he moved to Paris to start a new life. He soon discovered it's a different world en France.

Here is David's story of how he came to fall in love with—and even understand—this glorious, yet sometimes maddening, city. The more than fifty original recipes, for dishes both savory and sweet will have you running to the kitchen once you stop laughing. The Sweet Life in Paris is a deliciously funny, offbeat, and irreverent look at the city of lights, cheese, chocolate, and other confections. If Paris intrigues, excites, or merely interests you, then you should read this book!

Tuesday, June 12, 2007


6:30



24 Hours to Remember
Tumbuh Dewasa bersama Cinta dan Tragedi





Beberapa film karya mahasiswa Indonesia di luar negeri, meskipun dibuat secara indie dengan keterbatasan dana dan masih memiliki keterbatasan secara teknis, namun menyiratkan harapan bagi perfilman nasional. Demikian pula film ini, a good film indeed. Sebuah coming-of-age drama yang berkisah tentang persahabatan dan tragedi. Sayang sekali di Indonesia kerap terjadi good film goes unnoticed.


Film ini tentang 3 sahabat Alit, Bima dan Tasya yang tinggal di San Fransisco. Hari ini adalah hari terakhir Alit di kota itu. Alit berniat menjadikan hari terakhirnya sebagai hari perpisahan yang layak dikenang, walaupun tak mesti kenangan manis. Pada hari ini, mulai pukul 6:30 hingga 6:30 pagi hari keesokan harinya, ketiga sahabat itu menemui benturan-benturan yang memaksa mereka mengambil keputusan penting dalam pendewasaan mereka.

Film ini tak sekadar menawarkan panorama indah San Fransisco. Keunggulan utamanya justru pendalaman karakter psikologis tiga pelaku utamanya secara subtil lewat alurnya. Film ini seolah-olah menerima warisan pengaruh X generations. Kisah cinta segitiganya mengingatkan pada Reality Bites dan perjalanan ketiga tokoh ini mengingatkan kita pada Before Sunrise dan Before Sunset.

Jahitan-jahitan pengaruh itu disusun ulang dan membangun keunikannya tersendiri. Ketiga pemain utama berakting sangat matang dan chemistry yang terbangun terlihat sangat natural. Selain itu sinematografinya pun ditata dengan sangat apik dan indah. Sayang sekali kurang didukung dengan tata suara yang baik, sehingga beberapa bagian tidak terdengar dengan jelas.

H+ (PLUS), A NEW RELIGION? – Edward de Bono


SECRET OF POSITIVE WAY OF LIFE
Menuju Kebahagiaan Hakiki





H+ adalah akronim untuk Human+. Setidaknya begitulah bagi Edward De Bono. Penulis terkenal yang telah menelurkan beberapa best seller books ini telah diakui kapasitasnya sebagai pemikir ulung di bidang creative thinking. Mungkin Anda masih ingat karya terdahulunya Lateral Thinking dan Six Thinking Hats.

Kali ini de Bono menawarkan cara untuk menjalani hidup dengan positif. Tanda + (plus) sesudah huruf H mengindikasikan aspek-aspek terbaik dalam kemanusiaan. Aspek-aspek itu antara lain Happiness, Humor, Help, Hope and Health.

De Bono menjelaskan bagaimana caranya menerapkan 5H itu dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu de Bono juga menjelaskan bagaimana kelima hal itu akan berpengaruh posotif tak hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi Anda. Tak ingin sekadar menjadi buku self-help, de Bono merancang pemikiranya ini untuk menjadi gerakan sosial yang akan meningkatkan harkat kehidupan manusia.



NAIF – TELEVISI – EMI Music

Retro Pop Kaya Rasa





Grup musik Naif rupanya belum kehabisan ide untuk mengolah ramuan musik retro pop dengan bumbu komedi. Resep sukses yang telah teruji di 4 album lepas dan 1 album kompilasi the best itu, kini disajikan kembali dengan lebih matang dan kaya rasa dengan eksplorasi beragam variasi sound. Lewat album ini, Naif menyuguhkan retro pop itu dalam beragam gaya. Mulai dari ballad, middle upbeat, brit rock, bahkan hingga dance music. Semuanya tetap enak didengar.


Album kelima Naif yang bertajuk Televisi ini memang lebih catchy dan mengikuti perkembangan zaman. Artinya mereka berhasil untuk bertahan pada akar retronya, sekaligus juga mengekspresikan pendapat terhadap berbagai fenomena terkini. Hasilnya sebuah paduan yang menyenangkan untuk disimak dan sama sekali tidak membosankan.

Seperti titular song-nya, lewat album ini Naif menghadirkan sebuah televisi dengan beragam ‘tontonan’ yang tidak basi, sehingga Anda tidak akan dibuat keki. Memang, selalu ada alasan untuk menyukai Naif.


Travelers’ Tale : Belok Kanan, Barcelona! –
Adithya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya dan Iman Hidajat.



BERKELANA LEWAT IMAJINASI




Sukar untuk memasukan buku ini dalam genre travel book atau fiction. Yang jelas buku ini adalah hasil perpaduan kedua jenis bacaan itu. Artinya buku ini bisa disebut buku travel, tetapi dengan bingkai fiksi, atau sebaliknya. Buku ini ditulis mengikuti perjalanan 4 karakternya, Francis, Farah, Retno dan Jusuf.

Dimulai dengan rencana pernikahan Francis, buku ini akhirnya mengikuti perjalanan masing-masing tokoh dari berbagai penjuru dunia untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah tersampaikan dalam persahabatan mereka.

Meski disisipi muatan traveling, buku ini sukses membangun ceritanya dan menyimpulnya dengan baik. Membacanya akan membawa kita berkelana ke berbagai penjuru dunia lewat imajinasi. Alurnya membuat kita, termotivasi untuk menyelesaikan buku ini hingga huruf terakhir. Meskipun transisi antar pengarang, sedikit membuat canggung, tetapi buku ini tetap menarik dibaca.

Berbagi Suami

LOVE FOR SHARE
Dilema membagi cinta



Setelah sukses di berbagai festival di luar negeri dan gagal di FFI, film besutan sutradara andal Nia Dinata - Berbagi Suami -, bisa dinikmati dalam versi DVD. Lewat film ini, Nia Dinata melanjutkan ‘perang’ terhadap poligami. Topik yang sering jadi kontroversi media massa ini dikemas Nia lewat komedi, sehingga orang tidak perlu berdebat hingga suntuk untuk memahami ide Nia. Tampaknya Nia juga ingin menghukum lelaki hidung belang yang tidak bisa memelihara cintanya di satu ranjang saja. Dan jadinya memang lucu sekali, sekaligus berkelas.

Berbagi Suami menceritakan tiga kisah yang saling berpotongan. Kisah pertama adalah Salma, perempuan berpendidikan dari keluarga kaya yang mengalami poligami suaminya. Yang kedua adalah cerita Siti yang diperisteri seorang supir produksi film yang doyan kawin, meski hidup prihatin. Cerita ketiga adalah tentang Ming dan poligami di keluarga Tionghoa.

Selain cerita dan idenya yang menarik, film ini didukung oleh para pemain yang berakting dan berinteraksi nyaris sempurna. Berbeda dengan film-film Indonesia lain, yang berakting di sini adalah karakter, bukan lagi bintang-bintang. Sebuah film yang sangat sayang dilewatkan.



Mika
Life in Cartoon Motion (EMI)







Pentas musik dunia kini semakin ramai dengan hadirnya flamboyant pop-singer/songwriter muda, Mika. Lewat album debutnya, blasteran Amerika-Lebanon ini sukses didapuk BBC sebagai The Best New Talent 2007. Mendengar album perdananya, agaknya kita juga sepakat kalau gelar itu layak disandangnya.

Menyimak vokalnya, kita langsung mendapat kesan bahwa timbre vokalnya mirip dengan almarhum Fredderick Bulzara alias Freddie Mercury,. Mika secara sadar mengadopsi gaya ex vokalis Queen itu sebagai referensi musikalnya. Atmosfer Freddie Mercury dengan kuat mencengkram jatidirinya. Simaklah olah falsetto dan latar piano akustik yang sangat Queenesque, serta introduksi gitar ala Brian May. Simak juga lirik-liriknya yang lugas dengan tema-tema yang seolah terinspirasi dari kehidupan Freddie Mercury.

Sejak diluncurkan Februari lalu, hingga kini album ini telah menetaskan 4 singles yang apik: Relax, Take It Easy, Grace Kelly, Love Today dan Lollipop Tetapi jangan salah. Tidak ada kesan meniru sedikitpun lewat album perdana Mika ini. Yang ada hanyalah sebuah perayaan terhadap kekayaan artistik yang ciamik.




Paul Oakenfold
A Lively Mind (EMI)






Posisi Paul Oakenfold di jajaran DJ terbaik dunia boleh saja melorot dari peringkat 3 di akhir tahun 2005 lalu, kini harus puas berada di urutan ke-14 saja. Tetapi ternyata hasil olahan tangan dinginnya dalam meracik dance music, beraliran Trance masih tidak boleh dipandang sebelah mata. Lewat album terbarunya ini DJ veteran asal Inggris ini membuktikan bahwa karya-karyanya masih menampilkan a passionate flowing of speed, sophistication, and energy.

Album terbaru DJ asal Inggris yang ‘besar’ di Ibiza ini menampilkan 12 trance tracks yang sebagian besar hasil kolaborasinya dengan artis-artis lain. Salah satunya adalah bintang film seksi, Brittany Murphy yang kali ini mencoba ikut tarik suara lewat salah satu hit di album ini Faster Kill Pussycat. Selain itu, album ini menampilkan nama-nama artis seperti Spitfire, Pharell Williams, Ryan Tedder dan lain-lain.

Yang jelas jika Anda sedang kangen dengan iraman trungtungtung yang pernah Anda sukai beberapa tahun yang lalu, album ini akan memberikan update yang kurang lebih cukup akurat untuk membaca peta lantai dansa saat ini.



The Godfather – Mario Puzo
An Offer You Can’t Refuse…






Penggalan kalimat di atas diambil dari film terfavorit sepanjang masa (versi IMDB), The Godfather. Hal tersebut tidak berlebihan. Biarpun telah lintas generasi lebih dari 3 dekade, popularitas film ini bisa dikatakan tak tergoyahkan. Tetapi jangan lupa, cikal bakal film ini adalah novel karya Mario Puzo yang diterbitkan pada tahun 1969.

Sejak diterbitkan, novel ini menempati posisi unik dalam psyche dan culture masyarakat Amerika. Karena novel ini, tema mafia yang tadinya hanya tampil dalam berita kriminal, jadi memasuki lahan budaya pop. Banyak kontroversi yang lahir di sekitar judul novel ini dan implikasinya di dunia underworld. Puzo terinspirasi mengangkat tema ini dari pengalamannya sebagai jurnalis.

Buku ini berkisah tentang kebangkitan dan keruntuhan ‘keluarga’ mafia Don Vito Corleone dan putra-putranya. Tetapi tidak sekedar kisah drama biasa, Puzo mendeskripsikan dengan detail berbagai kode perilaku yang aneh dalam dunia mafia, honor system dan perebutan kekuasaan yang penuh kekerasan antara berbagai keluarga saling yang berseteru.

Puzo sebenarnya menulis novel ini untuk mengekspresikan pandangannya keroposnya bangunan spirit bersama - American Dream yang sering dielu-elukan warga negara adidaya ini. Terlepas dari berbagai makna di baliknya, this book is very well-written, suspenseful and explodes in a series of dramatic climaxes. Jadi benar-benar “an offer you can’t refuse” kan?

Monday, April 09, 2007


Nagabonar Jadi 2



PETUAH KEPAHLAWANAN UNTUK ABAD 21



Menarik sekali melakukan pembahasan tentang film Nagabonar Jadi 2. Film ini dimaksudkan sebagai sequel terhadap Nagabonar, film yang nasional yang rilis 21 tahun lalu. Nagabonar dahulu tak sekadar film komedi biasa. Film ini sukses besar di FFI dan juga menangguk sukses secara komesial. Tak cuma itu, karakter Nagabonar sendiri menjadi salah satu karakter fiktif paling kuat, populer dan iconic dalam sejarah Sinema Indonesia. Maka upaya membuat sequel-nya pasti akan menjadi bahan perbincangan yang sangat menarik. Dahulu film ini ditulis oleh Asrul Sani, disutradarai MT Risjaf dan dibintangi Dedy Mizwar dan Nurul Arifin. Kali ini disutradarai dan dibintangi langsung oleh Dedy Mizwar.

Kendati rentang waktu antara film aslinya dan sequel-nya ini hanya duapuluh tahun saja, rentang waktu yang meretas setting film aslinya dengan sequel-nya sekitar enampuluh tahun kemudian.


Kali ini, Nagabonar telah memiliki seorang putra dewasa bernama Bonaga. Konflik utama film ini adalah saat Bonaga dan sahabat-sahabatnya ingin menjual kebun kelapa sawit milik Bapaknya di kampung halamannya, Sumatra Utara, kepada investor dari Jepang untuk dijadikan sebuah resort. Nagabonar lantas menjadi sangat marah, sebab di kebun itu terdapat tiga makam orang yang selalu hidup di hatinya; Kirana – istrinya, Mak-nya, dan Si Bujang – sahabatnya yang gugur dalam perang kemerdekaan di film Nagabonar. “Apa kata dunia?” Lalu mulailah Nagabonar mengurai pesan-pesan dan petuah-petuahnya untuk abad 21 ini.

Film ini sukses untuk menjadi lucu. Bahkan yang tidak terlalu suka, akan bisa tertawa lepas karena lelucon-leluconnya cukup aktual dan nggak semuanya basi. Basic plot-nya juga mengena dengan situasi saat ini. Berbagai kalimat dan celetukan di film ini cukup bernas dan bisa menginspirasi kita untuk menjalani kehidupan yang lebih baik (kalau kita mau).


Tapi gw juga menemukan beberapa masalah yang membuat gw gak bisa sepenuhnya suka pada film ini. Gw sih gak terlalu perhatian ama detail ya. Jadi apa yang terjadi di kuburan waktu adegan awal gw gak bisa lihat kekurangannya secara konseptual. Tetapi justru di logika keseluruhan cerita gw ngerasa keganggu.


Salah satu diantaranya adalah soal jarak umur antara Nagabonar dan Bonaga. Misalnya saja di film Nagabonar versi MT Risyaf dan Asrul Sani, umur Nagabonar kita asumsikan saja sekitar 18 tahun, karena dia kabur dari sekolah di zaman Jepang, jadi copet lalu masuk penjara dan bebas selepas penjajahan Jepang (Dedy Mizwar sendiri kelihatan sudah lebih dari 30 tahun di film itu). Lalu kita asumsikan juga bahwa setting film Nagabonar itu sekitar tahun 1945-1949. Sedangkan setting Nagabonar Jadi 2 ini paling cepat tahun 2005 (karena sudah ada busway di film itu), maka paling muda usianya Nagabonar di film itu seharusnya sekitar 75 tahun dan paling tua sekitar 90 tahun.

Tetapi penampilan dan pembawaan Nagabonar dan Mariam (musuh Nagabonar waktu bersaing memperebutkan Kirana) di film lanjutan ini sama sekali nggak mengesankan pria sepuh berusia minimal 75 tahun. Dia layaknya pria di akhir 40-an atau awal 50-an dengan sedikit highlight abu-abu di rambutnya. rambut sih bisa aja dicat ya, tetapi masa Nagabonar yang tinggal di pedalaman Sumatera Utara itu aware untuk melakukan facelift agar mukanya begitu awet muda. Akibat logika waktu yang senjang ini akhirnya Dedy Mizwar juga jadi perlu menjelaskan kalau Bonaga adalah anak kelimanya, setelah keempat saudaranya yang lahir terdahulu langsung meninggal.

Memang cukup banyak penjelasan yang berusaha dilakukan Dedy Mizwar dalam film ini. Salah satunya juga adalah penjelasan mengapa ada nama Bujang di Nagabonar. Bujang dalam Bahasa Batak adalah kata-kata kotor, maka tidak mungkin ada orang tua memberi nama Bujang pada anaknya di Tanah Batak. Dedy Mizwar akhirnya menjelaskan bahwa si Bujang, kawannya zaman berjuang ini adalah perantau dari Padang Panjang. Nama Bujang adalah nama yang umum untuk masyarakat Minangkabau. Tetapi hal ini sebenarnya tidak terlalu perlu dilakukan.

Well, okelah. Kedua penjelasan ini bisa diterima. Tetapi akhirnya film ini terengah-engah sendiri untuk melakukan pembenaran terhadap logika-logika yang dibangunnya. Semuanya jadi harus dijelaskan secara verbal. Tidak bisa sekadar dicerna di alam bawah sadar penonton begitu saja. Masih ada lagi sih sebenernya beberapa cacat logika di film ini, tetapi mungkin nggak terlalu besar dan masih bisa dimaklumi seperti kalau kita menonton film Indonesia pada umumnya. Sayang sekali.



Selain itu di departemen akting juga gw sedikit terganggu. Tora Sudiro kayak gak seratus persen masuk dalam karakternya sebagai Bonaga. Sebagai salah seorang perantau dari kota Medan, gw melihat Tora terlalu sibuk mengurusi aksen Melayu-nya yang kurang sukses dan akibatnya lupa melakukan pendalaman terhadap karakter. Setiap kali Tora tidak beraksen terlalu Melayu, maka aktingnya pun jadi menonjol, dia berhasil mengantarkan emosi yang dituntut perannya. Tetapi kalau dia sudah sibuk mengurusi aksennya lagi, maka kembali hilanglah chemistry terhadap perannya itu.

Beda sekali dengan misalnya peran Rachel Maryam di Arisan atau bahkan Dedy Mizwar sendiri, yang logatnya sangat sublim dengan emosi dari karakter yang mereka perankan. Padahal, si Bonaga ini seharusnya tidak perlu dituntut berlogat Melayu segala (Jadi Tora bisa fokus di akting). Dia toh sudah lama tinggal di Jakarta dan bahkan mengenyam pendidikan di luar negeri. Banyak kok perantau asal Medan di Jakarta yang sudah bisa melepas logat Melayunya dan dengan lincah berbahasa Betawi, Sunda atau Inggris.


Tetapi di Departemen Akting ini gw juga ingin memberi pujian pada Dedy Mizwar yang gak pernah kendor kejagoannya dalam berakting, selain itu juga pada Wulan Guritno yang tampil sangat natural.


Yang paling jadi masalah bagi gw adalah upaya nasionalisme Dedy Mizwar yang muncul sebagai sikapnya terhadap kepahlawanan. Bagi gw, Nagabonar yang ditulis Asrul Sani dan disutradarai MT Risyaf telah mendekonstruksi kepahlawanan. Pahlawan yang selama ini senantiasa dikesankan tak bernoda, oleh Asrul dan Risyaf dibuat sebagai bahan lelucon (dalam arti positif, tentunya). Pahlawan itu bisa saja punya masa lalu kelam, bisa saja mantan copet, bisa saja buta huruf dan bisa saja jatuh cinta. Pahlawan juga manusia dengan segenap kemanusiaannya. Justru karena dia manusia biasa kita bisa menyukainya dan berkaca padanya.

Oleh Dedy Mizwar segala upaya dekonstruksi yang dilakukan Asrul Sani dan MT Risyaf selama duapuluh tahun lebih itu diluluhlantakan lagi dalam waktu dua jam. Kepahlawanan kembali dibangun sebagai monumen-monumen yang lengkap dengan patung-patung dan simbol-simbolnya yang harus dihormati secara fisik (dengan sikap menghormat ala upacara), bukan dihayati secara nurani. Ini yang gw agak kurang terima.


Gw mengerti sih bahwa Dedy Mizwar kini mengabdikan karya-karyanya untuk kepentingan syi'ar. Gw bisa menghargai itu dan bahkan gw menyukai Kiamat Sudah Dekat dan Ketika yang begitu jujur terhadap pesan dan jalan ceritanya. Tetapi jika kita bicara mengenai Nagabonar yang telah menjadi sebuah icon, bangunan ide atau sebuah konsep yang telah matang sebelumnya, gw jadi menyayangkan sekali.


Jadi intinya, bagi gw film ini punya misi yang bagus, memiliki beberapa keunggulan, tetapi juga memiliki beberapa kekurangan yang substansial. Tetapi ya sekali lagi ini penilaian gw. Penilaian orang kan bisa saja beda-beda. Bagaimanapun ini toh film Indonesia, jadi marilah ditonton sama-sama, agar selanjutnya bisa berkembang terus.

Wednesday, April 04, 2007




KALA


AMENANGI ZAMAN EDAN







Sebuah film action/thriller lahir dari tangan dingin sutradara muda berbakat Joko Anwar. Kala adalah film kedua Joko Anwar dan diproduksi oleh MD Entertainment. Lewat film ini, Joko layak menyandang gelar master of storytelling dalam sinema Indonesia baru. Ceritanya sendiri mengeksplorasi teknik penceritaan magical realism yang sangat khas Indonesia.

Film ini berkisah tentang polisi bernama Eros (Aryo Bayu) dan jurnalis bernama Janus (Fachri Albar) yang secara terpisah menyelidiki kematian misterius 5 laki-laki yang dibakar massa dalam sebuah kerusuhan. Negeri antah berantah (mirip Indonesia) yang jadi latar film ini memang diceritakan tengah dalam situasi zaman edan. Chaos dan ketidakadilan membayangi kehidupan masyarakat negeri itu. Semua orang menjadi stress dan ganas.

Tanpa disadari, penyelidikan Eros dan Janus terjebak dalam labirin penuh misteri dan bahaya. Janus yang menderita narcolepsi, tak sengaja menjadi satu-satunya orang yang mengetahui sebuah rahasia penting. Setiap kali menceritakan rahasia itu kepada orang lain, maka orang itu akan mati dengan mengerikan. Jalinan intrik pun tambah rumit dengan keterlibatan mantan istri Janus, Sari (Shanty) dan Ranti (Fahrani), penyanyi yang kehilangan seluruh anggota keluarganya. Legenda dan ramalan kuno akan mengurai semua misteri yang terjadi. Seorang Ratu Adil akan hadir sebagai superhero.

Tak seperti film-film Indonesia lainnya, Anda tidak perlu mencari pesan tersembunyi atau misi-misi sosial tertentu saat menonton film ini. Anda juga tidak perlu mengernyitkan dahi karena logika film yang patah-patah atau karena akting yang hysterical atau weird. Film ini membangun alurnya dengan sangat natural dan logika film terjaga dengan sangat hati-hati. Artistik dan sinematografinya juga digarap dengan sangat detail dan seksama. Walhasil, kita bisa menyaksikan hiburan 2 jam yang beautifully crafted, mencekam dan tanpa perlu terlalu banyak berceramah.

Monday, February 05, 2007



FLAGS OF OUR FATHERS



Dekonstruksi Kepahlawanan

Ketika Client Eastwood membongkar monumen-monumen kepahlawanan.

Flags of Our Fathers, film terbaru dari sutradara kampiun, Clint Eastwood mengemban tugas berat dan penting untuk menyampaikan sebuah konsep. Hebatnya, tugas berat itu berhasil dituntaskan dengan sangat memuaskan. Bukan sembarang konsep, melainkan konsep heroisme atau kepahlawanan. Kepahlawanan jika disuguhkan sebagai obyek pembicaraan, maka akan mudah menggiring kita untuk untuk terjebak pada hal-hal yang monumental dan cliché. Tetapi Eastwood berhasil membawa kita merenungi sejatinya sebuah kepahlawanan.

Film ini bertolak dari kabut perang Iwo Jima pada tahun 1945, ketika seorang jurnalis Associated Press, Joe Rosenthal memotret sebuah foto iconic yang menggambarkan enam serdadu Amerika Serikat mengibarkan bendera Amerika Serikat di Gunung Suribachi, Iwo Jima. Film ini mendekonstruksi momen kepahlawanan ini. Berbagai peristiwa yang terkait dengan pengibaran bendera ini dicacah menjadi permainan puzzle of flashbacks and flash-forwards. Eastwood membongkar semua mitos tentang foto ini. Bagaimana foto ini akhirnya menjadi alat kampanye penjualan saham perang dan bagaimana ketiga orang pengibar bendera yang masih hidup dirancang untuk menjadi pahlawan. Eastwood bahkan mengolah ruang-ruang emosional karakternya untuk menyampaikan konsep tentang kepahlawanan.

Dilihat dari sisi box office, film ini menawarkan elemen-elemen sebuah film perang yang seru dan berbobot. Eastwood tetap mengemas film ini dengan aksi keras dan berdarah-darah seperti benchmark film-film perang seperti Platoon, Saving Private Ryan atau Black Hawk Down. Yang perlu diacungi jempol juga, dengan mendekonstruksi konsep kepahlawanan ini, Eastwood sama sekali tidak mengecilkan arti penting perjuangan para serdadu itu di medan perang, justru dia memuliakan setiap orang yang telah mengorbankan hidupnya di perang itu. Sebuah film yang membuat kita bisa bertanya, kapan kita bisa menjadikan pahlawan-pahlawan bangsa kita semulia itu. Tak kurang dan tak lebih.