Wednesday, January 31, 2007


LONG ROAD TO HEAVEN


Memories of A Tragedy



Tragedi Bali Bombing 1 yang terjadi pada 12 Oktober 2002 meninggalkan kesan di benak dan hati ribuan orang. Kalyana Shira Films mengemas kesan-kesan itu menjadi karya yang intriguing, insightful dan mind-provoking berjudul “Long Road To Heaven”. Film besutan Enison Sinaro dan diproduseri Nia Dinata ini berusaha menyingkap beragam makna di balik tragedi ini. Film ini dibintangi Surya Saputra, Alex Komang, Raelee Hill dan Mirrah Foulkes.

Film ini dibuka dengan scene yang menggambarkan kekayaan panorama Bali masa kini. Dengan obyek wisata alam, obyek wisata budaya dan obyek wisata modern. Selanjutnya, film ini mengudari tragedi Bali secara multiperspektif. Pertama, adalah Hannah Catrelle, wanita Amerika yang menetap di Bali ketika tragedi itu terjadi. Kedua, perspektif Liz Thompson, wartawati Australia yang meliput persidangan kasus Bom Bali. Lewat dialektika dengan warga Bali yaitu Haji Ismail dan Wayan Diya, kedua wanita kulit putih ini mendapat pemahaman baru tentang tragedi ini. Selanjutnya, tragedi itu juga diteropong lewat kacamata eksekutor pemboman Amrozi dan Imam Samudra cs. serta para tim konseptor Jamaah Islamiyah seperti Hambali, Mukhlas, Nurdin M. Top, dan Dr. Azahari yang membangun epistemologi terhadap tindakan keji itu.

Hasilnya ternyata tidak jadi sebuah karya yang pretensius dan sarat pesan. Yang muncul adalah ilustrasi bagaimana Bali yang kerap dianggap surga oleh sebagian orang, ternyata harus dihancurkan sebagai jalan menuju surga bagi orang yang lain. Pesan yang lantas mengemuka adalah bahwa setiap suara – seminor apapun – harus didengar. Dengan senantiasa berusaha mendengar dan merespon jeritan-jeritan itu, mungkin pada akhirnya kita bisa membangun pemahaman tentang hidup bersama.

Terlepas dari kekuatan idenya, film ini terlihat agak kedodoran dalam eksekusi. Mulai dari konflik dan kontras yang tidak tertampilkan dengan matang, argumentasi yang kurang kuat, minor detail yang kurang tergarap hingga simplistic denouement. Sayang sekali. Namun upaya membuka wawasan semua orang dan ide mengangkat aspirasi setiap pihak ini adalah langkah awal yang patut dipuji, untuk menciptakan sebuah dunia damai yang terbuka terhadap perbedaan.