Monday, April 09, 2007


Nagabonar Jadi 2



PETUAH KEPAHLAWANAN UNTUK ABAD 21



Menarik sekali melakukan pembahasan tentang film Nagabonar Jadi 2. Film ini dimaksudkan sebagai sequel terhadap Nagabonar, film yang nasional yang rilis 21 tahun lalu. Nagabonar dahulu tak sekadar film komedi biasa. Film ini sukses besar di FFI dan juga menangguk sukses secara komesial. Tak cuma itu, karakter Nagabonar sendiri menjadi salah satu karakter fiktif paling kuat, populer dan iconic dalam sejarah Sinema Indonesia. Maka upaya membuat sequel-nya pasti akan menjadi bahan perbincangan yang sangat menarik. Dahulu film ini ditulis oleh Asrul Sani, disutradarai MT Risjaf dan dibintangi Dedy Mizwar dan Nurul Arifin. Kali ini disutradarai dan dibintangi langsung oleh Dedy Mizwar.

Kendati rentang waktu antara film aslinya dan sequel-nya ini hanya duapuluh tahun saja, rentang waktu yang meretas setting film aslinya dengan sequel-nya sekitar enampuluh tahun kemudian.


Kali ini, Nagabonar telah memiliki seorang putra dewasa bernama Bonaga. Konflik utama film ini adalah saat Bonaga dan sahabat-sahabatnya ingin menjual kebun kelapa sawit milik Bapaknya di kampung halamannya, Sumatra Utara, kepada investor dari Jepang untuk dijadikan sebuah resort. Nagabonar lantas menjadi sangat marah, sebab di kebun itu terdapat tiga makam orang yang selalu hidup di hatinya; Kirana – istrinya, Mak-nya, dan Si Bujang – sahabatnya yang gugur dalam perang kemerdekaan di film Nagabonar. “Apa kata dunia?” Lalu mulailah Nagabonar mengurai pesan-pesan dan petuah-petuahnya untuk abad 21 ini.

Film ini sukses untuk menjadi lucu. Bahkan yang tidak terlalu suka, akan bisa tertawa lepas karena lelucon-leluconnya cukup aktual dan nggak semuanya basi. Basic plot-nya juga mengena dengan situasi saat ini. Berbagai kalimat dan celetukan di film ini cukup bernas dan bisa menginspirasi kita untuk menjalani kehidupan yang lebih baik (kalau kita mau).


Tapi gw juga menemukan beberapa masalah yang membuat gw gak bisa sepenuhnya suka pada film ini. Gw sih gak terlalu perhatian ama detail ya. Jadi apa yang terjadi di kuburan waktu adegan awal gw gak bisa lihat kekurangannya secara konseptual. Tetapi justru di logika keseluruhan cerita gw ngerasa keganggu.


Salah satu diantaranya adalah soal jarak umur antara Nagabonar dan Bonaga. Misalnya saja di film Nagabonar versi MT Risyaf dan Asrul Sani, umur Nagabonar kita asumsikan saja sekitar 18 tahun, karena dia kabur dari sekolah di zaman Jepang, jadi copet lalu masuk penjara dan bebas selepas penjajahan Jepang (Dedy Mizwar sendiri kelihatan sudah lebih dari 30 tahun di film itu). Lalu kita asumsikan juga bahwa setting film Nagabonar itu sekitar tahun 1945-1949. Sedangkan setting Nagabonar Jadi 2 ini paling cepat tahun 2005 (karena sudah ada busway di film itu), maka paling muda usianya Nagabonar di film itu seharusnya sekitar 75 tahun dan paling tua sekitar 90 tahun.

Tetapi penampilan dan pembawaan Nagabonar dan Mariam (musuh Nagabonar waktu bersaing memperebutkan Kirana) di film lanjutan ini sama sekali nggak mengesankan pria sepuh berusia minimal 75 tahun. Dia layaknya pria di akhir 40-an atau awal 50-an dengan sedikit highlight abu-abu di rambutnya. rambut sih bisa aja dicat ya, tetapi masa Nagabonar yang tinggal di pedalaman Sumatera Utara itu aware untuk melakukan facelift agar mukanya begitu awet muda. Akibat logika waktu yang senjang ini akhirnya Dedy Mizwar juga jadi perlu menjelaskan kalau Bonaga adalah anak kelimanya, setelah keempat saudaranya yang lahir terdahulu langsung meninggal.

Memang cukup banyak penjelasan yang berusaha dilakukan Dedy Mizwar dalam film ini. Salah satunya juga adalah penjelasan mengapa ada nama Bujang di Nagabonar. Bujang dalam Bahasa Batak adalah kata-kata kotor, maka tidak mungkin ada orang tua memberi nama Bujang pada anaknya di Tanah Batak. Dedy Mizwar akhirnya menjelaskan bahwa si Bujang, kawannya zaman berjuang ini adalah perantau dari Padang Panjang. Nama Bujang adalah nama yang umum untuk masyarakat Minangkabau. Tetapi hal ini sebenarnya tidak terlalu perlu dilakukan.

Well, okelah. Kedua penjelasan ini bisa diterima. Tetapi akhirnya film ini terengah-engah sendiri untuk melakukan pembenaran terhadap logika-logika yang dibangunnya. Semuanya jadi harus dijelaskan secara verbal. Tidak bisa sekadar dicerna di alam bawah sadar penonton begitu saja. Masih ada lagi sih sebenernya beberapa cacat logika di film ini, tetapi mungkin nggak terlalu besar dan masih bisa dimaklumi seperti kalau kita menonton film Indonesia pada umumnya. Sayang sekali.



Selain itu di departemen akting juga gw sedikit terganggu. Tora Sudiro kayak gak seratus persen masuk dalam karakternya sebagai Bonaga. Sebagai salah seorang perantau dari kota Medan, gw melihat Tora terlalu sibuk mengurusi aksen Melayu-nya yang kurang sukses dan akibatnya lupa melakukan pendalaman terhadap karakter. Setiap kali Tora tidak beraksen terlalu Melayu, maka aktingnya pun jadi menonjol, dia berhasil mengantarkan emosi yang dituntut perannya. Tetapi kalau dia sudah sibuk mengurusi aksennya lagi, maka kembali hilanglah chemistry terhadap perannya itu.

Beda sekali dengan misalnya peran Rachel Maryam di Arisan atau bahkan Dedy Mizwar sendiri, yang logatnya sangat sublim dengan emosi dari karakter yang mereka perankan. Padahal, si Bonaga ini seharusnya tidak perlu dituntut berlogat Melayu segala (Jadi Tora bisa fokus di akting). Dia toh sudah lama tinggal di Jakarta dan bahkan mengenyam pendidikan di luar negeri. Banyak kok perantau asal Medan di Jakarta yang sudah bisa melepas logat Melayunya dan dengan lincah berbahasa Betawi, Sunda atau Inggris.


Tetapi di Departemen Akting ini gw juga ingin memberi pujian pada Dedy Mizwar yang gak pernah kendor kejagoannya dalam berakting, selain itu juga pada Wulan Guritno yang tampil sangat natural.


Yang paling jadi masalah bagi gw adalah upaya nasionalisme Dedy Mizwar yang muncul sebagai sikapnya terhadap kepahlawanan. Bagi gw, Nagabonar yang ditulis Asrul Sani dan disutradarai MT Risyaf telah mendekonstruksi kepahlawanan. Pahlawan yang selama ini senantiasa dikesankan tak bernoda, oleh Asrul dan Risyaf dibuat sebagai bahan lelucon (dalam arti positif, tentunya). Pahlawan itu bisa saja punya masa lalu kelam, bisa saja mantan copet, bisa saja buta huruf dan bisa saja jatuh cinta. Pahlawan juga manusia dengan segenap kemanusiaannya. Justru karena dia manusia biasa kita bisa menyukainya dan berkaca padanya.

Oleh Dedy Mizwar segala upaya dekonstruksi yang dilakukan Asrul Sani dan MT Risyaf selama duapuluh tahun lebih itu diluluhlantakan lagi dalam waktu dua jam. Kepahlawanan kembali dibangun sebagai monumen-monumen yang lengkap dengan patung-patung dan simbol-simbolnya yang harus dihormati secara fisik (dengan sikap menghormat ala upacara), bukan dihayati secara nurani. Ini yang gw agak kurang terima.


Gw mengerti sih bahwa Dedy Mizwar kini mengabdikan karya-karyanya untuk kepentingan syi'ar. Gw bisa menghargai itu dan bahkan gw menyukai Kiamat Sudah Dekat dan Ketika yang begitu jujur terhadap pesan dan jalan ceritanya. Tetapi jika kita bicara mengenai Nagabonar yang telah menjadi sebuah icon, bangunan ide atau sebuah konsep yang telah matang sebelumnya, gw jadi menyayangkan sekali.


Jadi intinya, bagi gw film ini punya misi yang bagus, memiliki beberapa keunggulan, tetapi juga memiliki beberapa kekurangan yang substansial. Tetapi ya sekali lagi ini penilaian gw. Penilaian orang kan bisa saja beda-beda. Bagaimanapun ini toh film Indonesia, jadi marilah ditonton sama-sama, agar selanjutnya bisa berkembang terus.

2 comments:

rime said...

mau sedikit koreksi mas..

film ini bukan sekuel Nagabonar, karena rentang waktu yang terlalu jauh itu..

ini kata Deddy Mizwarnya sendiri loh..

udah baca novelnya belum? lebih seru loh... :p

rime said...

fyi, ini bukan sekuelnya film Nagabonar.

itu kata Deddy Mizwarnya sendiri.

udah baca novelnya belum? bagus juga loh..